Pagi itu kami sepakat berkumpul di rumah Randy, di bilangan Stadion Klabat. Kami akan bepergian. Sudah dari jauh-jauh hari kami merencanakan untuk mengadakan suatu kegiatan, yang tentunya bertujuan untuk melepas penat dan kebosanan kerja. Lagipula sudah lama kami, anak-anak Splendid, tidak berkumpul dan melakukan sesuatu untuk sekedar refreshing bersama. Cerita bercerita, kami sepakat untuk melakukan sesuatu yang menggunakan nyali dan adrenalin, yaitu........ ARUNG JERAM..!!! Ya, sebagian besar dari kami belum pernah melakukan arung jeram atau biasa disebut Rafting. Hanya beberapa di antara yang sudah pernah, dan itu pun hanya sekali. Saya termasuk salah satu yang sangat antusias untuk melakukan kegiatan ini. Hanya melihat di televisi dan mendengar cerita teman-teman yang sudah pernah ber-rafting ria, makin menambah ketertarikan saya untuk melakukan olahraga yang mengundang adrenalin ini. Begitu juga dengan yang lain.
Saling menunggu untuk berkumpul, tepat pukul 12.00 siang kami langsung menuju ke Timbukar. Saya, Tra, Joy, Sakul, menumpang di mobil Yudha. Kami berlima berangkat duluan karena kami bermaksud untuk singgah makan di rumah makan Heng Mien di kawasan Tinoor. Maklum, kami semua belum mengisi perut dari rumah. Berkumpul dari pagi dan baru berangkat pada siang harinya tentu tidak bisa mengajak kompromi untuk urusan "kampung tengah". Kami semua berjumlah 16 orang, namun yang akan ikut rafting hanya 14 orang. Namun sayang, berkurang lagi menjadi 13 orang karena sewaktu di tengah jalan kami baru menyadari bahwa salah satu teman kami, Levy, ketinggalan di rumahnya. Sebelumnya yang kami tahu dia akan menumpangi mobil lain karena di mobil yang saya naiki sudah penuh. Yah, apa mau dikata, mobil kami sudah hampir setengah jalan. Tak mungkin kami berbalik arah karena memang sudah terburu waktu. Mungkin lain kali dia bisa ikut, toh ini bukan terakhir kali kami akan bepergian bersama.
Ada cerita lucu di balik perjalanan kami ke Timbukar, khususnya bagi kami berlima yang semobil. Karena hanya teman kami Sakul yang pernah pergi kesana, tentu saja kami berharap ia bisa menjadi penunjuk arah yang baik. Kira-kira setelah 1 jam setengah perjalanan, sudah termasuk waktu kami singgah makan, akhirnya kami sampai di desa Sonder. Hawa sejuk dingin langsung terasa. Maklum saat itu hujan masih turun rintik-rintik. Kejadian lucu itu pun terjadi. Bermula ketika kami menanyakan lokasi tujuan kami pada Sakul, dan ia menjawab bahwa Timbukar terletak ....... setelah desa Rambunan. Oh, kalau desa Rambunan saya tahu dimana. Maka setelah berada desa Sonder bawah, mobil pun langsung belok kanan memasuki sebuah lorong kecil dengan jembatan beton tua yang memotong sebuah anak sungai kecil. Perjalanan pun kami teruskan tanpa ada rasa curiga dan khawatir, jangan-jangan kami akan tersesat. Canda tawa mengiringi perjalanan kami ke Timbukar versi Sakul yang "melalui" desa Rambunan tersebut. Hutan kecil pohon Jati, kandang ayam dan kandang babi milik penduduk sekitar, hingga akhirnya sekitar 10 menit dari lorong yang kami masuki pertama, kami sampai di desa Rambunan. Mobil kami pacu perlahan karena jalanan yang bisa dibilang "belum terjamah" karena masih berbatu-batu. Kami kemudian bertanya kembali kepada Sakul, dimana lokasinya, namun dia hanya tertidur, dan hanya menjawab sekilas, "masih teruss lagi..". Karena sudah merasa tidak enak, kami lantas membangunkannya dan bertanya apakah ini jalan yang benar untuk pergi ke Timbukar, tapi dia seperti terkejut melihat jalanan yang asing baginya. Perasaan curiga itu pun mejadi nyata ketika kami menatap ujung jalan desa Rambunan yang sudah menyempit. Kami pun berniat menanyakan lokasi arung jeram Timbukar kepada penduduk yang kebetulan sedang duduk-duduk di sebuah warung. Dan apa jawab mereka? "..Odoohh, jaoh le. di Sonder bawah trus..dimuka sana..jangan belok kesini.." WTF?!!! SAKUUULLL... !!! Tak bisa memarahinya, kami berlima hanya tertawa terbahak-bahak. Menyadari bukan salah Sakul sepenuhnya, melainkan salah kami juga, kenapa tidak bertanya dari awal jika tidak yakin lokasinya dimana. Perjalanan kami pun tertunda hampir setengah jam untuk sampai ke Timbukar hanya karena kesasar. Mobil pun kami putar balik kembali menuju Sonder. Sepanjang jalan dari Rambunan ke Timbukar tak pernah sepi dari canda tawa kami berlima, sambil sesekali mengejek kecerobohan Sakul yang salah menunjuk jalan. Dasar Sakul, Sotooyyy!!!
Selepas desa Tincep, kami mulai disuguhi dengan jalan turunan berbatu. Sebelah kanan jalan adalah jurang, yang tandanya sungai sudah berada di bawah kami. Tiba-tiba....... wuuuuiiiihhhh... kereeeennn..!!!.








